Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Minggu, 24 Mei 2009

" Syekh Abdul Qodir Jailani "

Pemadu Keshalehan dan Kecerdasan

Bagi umat Islam Indonesia, terutama para penganut tarekat Qadiriyah, nama Syekh Abdul Qadir Jaileni sangat terkenal. Pendiri tarekat Qadiriyah ini seringkali dianggap sebagai tokoh spiritual yang mencapai derajat wali sehingga banyak cerita atau hikayat yang menempatkan dirinya dalam posisi amat istimewa, luar biasa dan penuh kekeramatan.

Padahal, tokoh tarekat kelahiran Gilan atau Jailan di selatan laut Kaspia, Iran pada tanggal 1 Ramadhan 471 H ini merupakan tokoh yang mampu memadukan syari’at (ajaran agama) dan tarekat (spiritualisme) dalam kehidupan sehari-hari. Menengok kehidupannya di abad 11 Masehi yang penuh dengan pertentangan antara spiritualisme ekstrim Mansur Hallaj dan rasionalisme Mu’tazilah, maka keberhasilannya memadukan keduanya dalam praktek kehidupan merupakan prestasi puncak yang berhasil diraih oleh seorang ulama.

Kala itu, dunia Islam penuh dengan kekacauan dan pergolakan. Umat dan para pemimpinnya jatuh dalam dekadensi politik dan moralitas. Zaman emas khilafah Abbasiyah telah berlalu. Kekhilafahan Islam jatuh ke tangan khalifah yang lemah, tenggelam dalam kehidupan mewah dan suka berfoya-foya.

Dalam situasi seperti itulah Syekh Abdul Qadir Jailani lahir. Keluarganya merupakan keluarga shaleh dan sederhana. Ayahnya Abu Swaleh, sedangkan ibunya Fatimah, putri Sayid Abdullah Saumai, seorang alim dan tokoh sufi pada waktu itu.

Abdul Qadir kehilangan ayahnya pada usia muda. Ia kemudian dipelihara dan dididik oleh kakeknya hingga usia 17 tahun. Pada usia itu ia dikirim ke Baghdad untuk menimbah ilmu yang lebih tinggi. Di Baghdad, Abdul Qadir jadi murid kesayangan Abu Zakaria Tabrezi, rektor Jami’at Nidzamiah, salah satu perguruan tinggi Islam termuka saat itu.

Delapan tahun menuntut ilmu di perguruan itu, Abdul Qadir berhasil menguasai berbagai ilmu pengetauan yang diajarkan. Otaknya yang cerdas dan ingatannya yang kuat membuat ia jadi salah satu lulusan terbaik dari sekolah tersebut. Setelah menguasai perbendaharaan ilmu, Abdul Qadir tertarik untuk melakukan pelatihan ruhani. Ia pun menjadi murid Syekh Abu Said Mukhzumi, orang shaleh termasyhur pada masa itu.

Tampaknya perpaduan dua perguruan, pemikiran dan ruhani tersebut, membuat Abdul Qadir mampu menjadi salah satu ulama yang disegani di Baghdad. Kefasihannya dalam bertutur dan kekayaan batin yang dimiliki membuat setiap ceramah yang dilakukannya mampu menarik massa demikian besar. Tak kurang dari 70 – 80 ribu massa hadir setiap kali Abdul Qadir mengadakan pengajian. Tak hanya halayak ramai yang hadir dalam pengajiannya, tapi juga para pembesar bahkan khalifah Abbasiyah sendiri datang hanya untuk mendengarkan setiap ulasan ajaran Islam yang dibawakannya.

Selama tak kurang dari 40 tahun lamanya, Abdul Qadir membimbing masyarakat lewat pengajian dan madrasah yang didirikannya. Pada usia 91 tahun, ia pun berpulang ke rahmatullah dengan meninggalkan warisan tak ternilai. Dari putra-putrinya yang berjumlah banyak (20 putra dan 29 putri) meneruskan ajaran dan pelatihan ruhani yang pernah diajarkan Syekh Abdul Qadir Jailani.

Putra-putranya bersama para muridnya itulah yang akhirnya membentuk tarekat-tarekat dengan sebutan Qadiriyah, menisbatkan pada nama ayah dan guru mereka. Awalnya, tarekat ini berkembang pertama kali di Iraq, Syiria, Mesir dan Yaman. Pada tahap berikutnya, tarekat ini menyebar ke berbagai penjuru dunia Islam, termasuk Indonesia.

Ajaran Syekh abdul Qadir Jailani paling tidak terangkum dalam buku-buku karyanya, antara lain Futuh al-Ghaib, Al-Fath Al-Rabbani dan Al-Qasidat al-Ghasiyyat. Secara garis besar, ajaran syekh abdul Qadir Jailani, yang telah memadukan keshalehan dan kecerdasan, mengingatkan para pengikutnya untuk berpegang teguh kepada ajaran Al-Qur’an dan Sunnah. Setia menjalankan perintah Allah dan rasul-Nya, dan berjuang sungguh-sungguh mengendalikan hawa nafsu, serta pada taraf yang lebih tinggi berserah diri sepenuh hati kepada kehendak-Nya.

Meskipun tidak sedikit orang yang salah paham terhadap ajarannya, dengan mengkultuskan dirinya secara berlebihan, yang melebihi posisi para sahabat Rasul saw, tabiin dan ulama-ulama lain. Seperti halnya pemahaman sebagian orang yang menyatakan, bahwa Syeh Abdul Qadir Jailani bisa melihat dan mengendalikan hal-hal yang ghaib. Sementara Rasulullah saw sendiri tidak tahu hal-hal yang ghaib, karena itu semua wilayah kekuasaan Allah SWT.

Selasa, 12 Mei 2009

PBAT HARUM JAKARTA

Program Bahasa Arab Terpadu (PBAT) Harapan Ummat Jakarta

¦ Nama Program.

Program Bahasa Arab Terpadu (PBAT) Harapan Ummat (HARUM) Jakarta. Program ini dalam system pengajarannya memadukan antara system klasik dan system modern, dan dalam materinya memadukan antara materi bahasa Arab dan ilmu-ilmu syari’ah.

Motto program ini adalah Bahasa Arab Mudah dan Perlu.

Bahasa Arab itu Mudah, karena Allah sendiri telah menyatakan bahwa Al-Qur’an yang berbahasa Arab itu mudah untuk dipelajari. Hal tersebut dinyatakan tiga kali dengan redaksi dan penguatan yang sama dalam Al-Qur’an, surat Al-Qomar ayat 17, 22, 32 dan 40.

Bahasa Arab itu perlu, karena sumber-sumber hukum Islam dan khazanah-khazanah keislaman yang lainnya semua berbahasa Arab. Maka tidak akan sempurna ilmu dan pengetahuan seorang muslim –terutama seorang da’i- tanpa penguasaan terhadap Bahasa Arab.

¦ Lama Belajar.

Lama belajar di PBAT Harapan Ummat (HARUM) ditempuh selama satu setengah tahun, terdiri dari 4 level, setiap level ditempuh selama + 3,5 bulan atau 15 pekan. 14 pekan untuk belajar dan 1 pekan untuk imtihan (ujian).

Rabu, 06 Mei 2009

Bahasa Arab "Thariq"


Thariq Fi Ta'lim Al-Lughah Al-Arabiah.

Semangat belajar Bahasa arab di kalangan anak didik muslim demikian besar kita dapati, terutama di negara-negara Islam. Karena kedudukannya sebagai bahasa agama, ibadah, pengetahuan bahkan kehidupan yang sanggup mengikat umat Islam dengan benang-benang ukhuwwah dan cinta.

Hanya saja dalam mempelajari bahasa ini, mereka sering kali mendapati kendala, seperti buku panduan yang kurang memenuhi harapan dan sistem pengajaran yang tidak komprehensip bila dibandingkan dengan buku panduan dan sistem pengajaran bahasa asing yang lain.

Sehingga selain mereka tidak mendapatkan hasil yang maksimal, mereka juga merasa tidak nyaman dan tidak puas dalam menjalani proses belajar Bahasa arab.

Maka yang muncul adalah sebuah kesan yang menjadi kesepakatan bersama bahwa "Bahasa Arab itu susah dan membosankan".

Oleh sebab itulah program pengajaran Bahasa Arab "Thariq" ini hadir dengan bentuk percakapan multimedia audio visual yang dilengkapi dengan buku teks dan terjemahannya, dengan harapan bisa menjadi solusi untuk permasalahan-permasalahan di atas.

Program ini terdiri dari 3 CD video dan 3 buku, dan yang ada di hadapan anda sekarang adalah CD video dan buku yang pertama. Dengan harga setiap paket (satu buku & satu CD video) Rp. 25.000. (Abu Atikah. M. Lc)

Anda ingin tahu lebih banyak tentang program ini atau ingin memilikinya,
silahkan hubungi (021)323.97.686. Email: atikahiyyad@gmail.com